Aktivis, Islam dan Penggusuran

Aktivis, Islam dan Penggusuran

Kawasan Bukit Duri, Jakarta sudah rata dengan tanah. Ini adalah bukti nyata arogansi Ahok sebagai gubernur Jakarta. Tokoh yang naik jadi gubernur karena “kecelakaan sejarah” itu dengan semena-mena melakukan penggusuran paksa dengan bantuan aparat (Polisi/tentara/Satpop PP). Tak peduli sengketa dan status kawasan masih berproses di pengadilan. Paska penggusuran, kita bisa berefleksi agar kejadian serupa tak terulang lagi. Agar rakyat kecil tak terus menerus ditindas oleh penguasa yang semena-mena.

Terkait dengan perjuangan membela warga Bukit Duri ini, kita tahu tokoh muslim semisal Yusril Ihza Mahendra, turut andil dalam melakukan pembelaan konstitusional lewat jalur hukum dan pengadilan. Sementara, ada Romo Sandyawan yang melakukan advokasi langsung di lapangan, ada juga Jaya Suprana, budayawan Tionghoa turut melakukan orasi kebudayaan menolak penggusuran nir kemanusiaan ini.

Pertanyaannya sekarang, ke mana aktivis Islam? Sedang apa mereka ketika rumah-rumah warga Bukit Duri diratakan dengan tanah? Saya kira, ini menjadi cermin bagaimana sebenarnya, aktivis-aktivis Islam itu , yang bergerak dalam ranah gerakan mahasiswa, semestinya turut andil dalam melakukan pembelaan. Sayangnya, entah apa yang sedang dikerjakan. Diam, tanpa suara. Tentu saja, kenyataan demikian perlu menjadi refleksi gerakan mahasiswa Islam . Pasti ada yang salah dengan gerakan. Atau barangkali memang solidaritas kemanusiaan sudah tumpul?

Mungkin, kalau boleh berprasangka positif, mereka sebenarnya hadir. Tapi, tak terlalu punya peran signifikan. Baiklah. Itu dimaklumi. Tapi, saya mencatat, ada aktivis Islam, tepatnya aktivis Islam Liberal yang malah begitu menjengkelkan. Sebut saja salah satunya, Guntur Romli. Alih-alih melakukan pembelaan, pendukung setia Ahok ini di sosial media justru menuduh para pembela warga Bukit Duri sebagai sosok yang hidup dalam proyek kemiskinan. Sungguh, sebuah tuduhan mirip dengan Orde Baru, yang menuduh seseorang atau kelompok sebagai “Anti Pembangunan” bagi siapapun yang menolak kebijakan pemerintah.

Dalam kasus penggusuran ini, saya jadi teringat oleh sebuah buku berjudul “Islam yang Memihak” (2005) karya Moeslim Abdurrahman. Tokoh Muhammadiyah, Doktor dari Universitas Illionis, Urbana AS dan juga pernah menjadi Ketua Al-Maun Institute, wadah anak-anak muda yang berpikiran terbuka dan progresif.

Aktivis Islam, sudah semestinya bisa menaruh perhatian pada soal penindasan dan pembebasan, seperti yang telah dilakukan Muhammad sepanjang hidupnya. Apa boleh buat, dalam kasus penggusuran ini, aktivis Islam tidak hadir. Artinya, gagal mengemban risalah profetik (berbasis kenabian). Dan saya kira, tak ada pilihan lain, ke depan, aktivis Islam mesti kembali mengasah kepekaan dan solidaritas kemanusiaannya. Agar, keberadaan aktivis Islam menjadi nyata dan berguna.

Penulis. Yons Achmad. Founder Wasathon.com.

Leave a Reply

You have to agree to the comment policy.