Hijrah, Perubahan Menuju Lebih baik

Hijrah, Perubahan Menuju Lebih baik

Awal tahun hijriyah merupakan kesempatan bagi seorang Muslim untuk merefleksikan makna hijrah dalam kehidupannya.

Kalau ada seorang muslimah yang sebelumnya tak berhijab lalu mengenakan busana syar’i, ia menyatakan: ‘Alhamdulillah…Saya sudah hijrah’.Yang tadinya suka mendengar lagu-lagu jahiliyah, ‘Alhamdulillah…Saya sekarang sudah hijrah’.

Jadi kesimpulannya ialah hakekat hijrah itu adalah perubahan.
Berubah dari kondisi yang tidak baik menjadi baik.
Dari keadaan yang telah baik, menjadi lebih baik.
Apa saja yang membantu kita untuk mampu hijrah?

Mengetahui Arah Tujuan Hidup

Hal pertama yang membantu merefleksikan hijrah adalah mengetahui arah dan tujuan hidup. Allah SWT tidak menciptakan kita sia-sia, pasti ada suatu perintah dan larangan yang mesti kita jalankan dan mesti kita jauhi. Allah SWT berfirman:

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”
(QS Al Mu’minun: 115).

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan maksud ayat tersebut adalah, _“Apakah kalian diciptakan tanpa ada maksud dan hikmah, tidak untuk beribadah kepada Allah, dan juga tanpa ada balasan dari-Nya?”(Madarij As-Salikin, 1: 98)

Menyiapkan Bekal

Tak dapat dipungkiri bahwa untuk ‘kuat’ dan konsisten dalam hijrah membutuhkan bekal. Bekal yang pertama dan utama adalah keikhlasan niat Karena Allah SWT semata.

Ikhlas menjadi kekuatan ‘dalaman’ dalam menjalani hijrah dari apa yang Allah larang. Ikhlaskan memberikan ‘nafas panjang’ sehingga tidak terjadi disorientasi karena godaan syetan.

“Iblis menjawab, “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka”. (QS Shad: 82-83).

Waspadai Godaan Saat Hijrah

‘Pahala disesuaikan dengan kadar kesulitan’. Demikian kaedahnya. Sehingga untuk meraih kemuliaan gelar ‘muhajirin’ atau orang yang berhijrah maka godaan nya pun tidak ringan.

Imam Ibnu Taimiyah pernah menyatakan ‘Keberkahan yang paling besar ada dalam konsistensi atau istiqomah’.

Godaan bisa dari orang terdekat; orang tua, pasangan hidup, sahabat dekat, atasan dan lainnya. Godaan pun bisa berupa sindiran, kritikan, tidak dapat job, atau ditawari pekerjaan dengan syarat kembali mundur seperti sebelum hijrah bahkan mungkin sampai pemecatan dari kepegawaian.

Karena itu dekat dengan Allah SWT dan kebersamaan dengan orang-orang yang shaleh dan sholihah menjadi sebuah keniscayaan. Wallahu A’lam

Dr H Agus Setiawan, Lc., MADewan Pengawas Syariah (DPS) Inisiatif Zakat Indonesia (IZI)

Leave a Reply

You have to agree to the comment policy.