Ketika Pensiunan Pejabat Mendengar Azan Subuh

Ketika Pensiunan Pejabat Mendengar Azan Subuh

Senja di akhir tahun 2017, saya laksanakan niatan melangkahkan kaki ke  arah matahari terbenam yang tampak bulat besar, kemerahan. Terhalang oleh awan kelabu. Sekedar meluruskan kaki dan membunuh waktu.Waktu maghrib, beberapa menit sebelum pukul 18:00 WIB. Tak sengaja malah sua manusia senja usia.

Lazimnya manusia senja, yang masa kecilnya pernah melihat langsung balatentara Dai Nippon, di Yogyakarta, cerita kebanggaannya merasa lebih tua. Lebih serba tahu, minimal lebih tahu dahuluan, Bukan pikun di keluarga. Ada jenis pikun modern, yaitu pikun lingkungan. Karena di keluarganya, sang manusia senja tersebut mampu jaga imej. Keluarga mendukung dengan total. Namanya menghormati suami, kepala keluarga, orangtua, kakek. Tidak halnya dengan lingkungan yang serba kritis, nyinyir dan nyonyor.

Sang manusia senja, bangga sebagai pensiunan pejabat Departemen Kehakiman, saat itu. Bangga masih bawa pistol dinasnya, yang lupa dikembalikan. Kebanggaan lain adalah menceritakan pengalaman kerjanya. Tanpa diminta, otomatis keluar dari mulutnya cerita bersambung dari side A ke side B. pengulangan cerita. Tepuk dada menolak rejeki yang dibawa oleh bendahara proyek.

Jam terbang sebagai abdi negara, melebihi masa bakti presiden pertama maupun presiden kedua RI. Usianya jauh lebih sepuh daripada NKRI. Modal sebagai pemain bola dan ijazah SMA sudah bekerja. Pernah ditempatkan di luar Jawa.

Kembali ke maksud berjudul. Liwatlah, kak Seno, muadzin masjid kompleks. Saya bilang, itu kak Seno yang seharian jual air dengan gerobag dorong isi 12 jerigen, dipercaya DKM masjid untuk menjadi muadzin tetap sholat 5 (loma) waktu.

Tanpa diduga sang pensiunan pejabat tampak sedih sambil geleng kepala. Sambil tepuk jidat. Mulutnya seperti ekspresi sedih sekaligus mencibir. Meremehkan sesuatu.

“Saya itu, setiap pagi dengar azan subuh. Lihat jam pukul 5. Masih mengantuk. Tahu-tahu bangun pukul setengah tujuhan”. Tanpa merasa bersalah dengan kejujurannya. Waktu subuh setempat, kalau jam 5 pagi, yang subuhan di masjid sudah bubar. Apa arti sebuah nama, berlaku bagi beliau. Namanya pak Rakhmat. Karena yang pembawaannya masih bak pejabat, warga memanggilnya ‘gubernur’. Minimal dipanggil pak RW, akronim dari namanya.

Agar beliau merasa bangga dengan adatnya, saya tanya : “Doeloe, sewaktu masih aktif, masih dinas, masih gagah sebagai pejabat, juga dengar suara azan?”.

Dengan jujur dia langsung menjawab tegas. “Saya selalu fokus ke pekerjaan. Sampai lupa waktu. Makan diantar ke ruangan. Terkadang awet sampai sore”. Disertai dengan penjelasan berguman tidak jelas kemana-mana plus peragaan tangan bergaya memerintah. “Sampai rumah, isteri juga PNS, lebih banyaK langsung istirahat”, jelasnya dengan girang, sambil menepuk pundak saya agar saya yakin. Tepatnya, meremehkan saya yang jauh lebih muda.

Soal pensiun, dengan riang selalu berujar bahwa pensiunnya paling besar dibanding tetangga. Ditambah pensiun isteri, sebulan bisa hidup tenang.

“Kurang apa jasa saya ke pemerintah, sebagai amal saya”, tuturnya sambil mulutnya mencibir, telunjuk dimainkan.

Kata tetangga, di musholla dekat rumahnya, hanya beberapa ratus meter, beliau jarang hadir. Bahkan sholat jumat, tak pernah kelihatan. Mungkin pilih masjid raya yang agak jauh. “Rakhmat uban”, celoteh warga purna ABRI yang jauh lebih tua mengomentari sang pensiunan pejabat yang merasa sudah tuntas amal.

Inilah sekisah pensiunan pejabat. Memang ironis. Tidak bisa kita komentari dalam hati, menyangkut HAM. Buktinya, sang pensiunan pejabat masih aktif jalan kaki, 2@3 x sehari, sambil goyang tangan biar dikira senam sehat. [Herwin Nur/WASATHON.COM]

Leave a Reply

You have to agree to the comment policy.