Kisah Perempuan-perempuan Pecandu Buku

Kisah Perempuan-perempuan Pecandu Buku

Judul Buku : Aku & Buku #2 Perempuan-perempuan yang Mencintai Buku
Editor : Ale Siregar, dkk.
Penerbit : Radio Buku, Jogjakarta
Cetakan : I, Oktober 2016
Tebal : 169 halaman
ISBN : 978-979-1436-40-3

Membaca dan menulis buku merupakan pengayaan eksistensial yang memberi jalan lapang bagi masa depan. Meski tak mudah, 19 perempuan dalam kisah buku ini secara konsisten menangkap dan memilah ribuan peristiwa yang dicandra, merunutnya dalam hubungan-hubungan yang logis, serta memberinya makna baru dalam parade kata-kata. Tidah mudah karena dalam satu sekuensi waktu mereka harus berbagi antara pekerjaan dan membaca (menulis) buku.

Inilah cerita 19 perempuan tentang buku. Kisah bagaimana buku memengaruhi pikiran dan langkah kaum perempuan dalam menghitung siasat sebagai upaya peningkatan kesadaran mereka tentang arti hidup dan kehidupan.

Apa pun profesinya, tidak lantas menghalangi perempuan-perempuan tersebut untuk menjadikan buku sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan mereka. Makanan sehari-hari mereka adalah buku. Mereka pun senang sekali melahap buku sebagai nutrisi utama ilmu pengetahuan.

Rupa-rupa judul buku telah melecutkan kenangan sedemikian indah bagi 19 perempuan penggila aksara dalam buku ini. Namun, yang memersatukan mereka adalah bacaan menjadi titirah agar berhenti sejenak, merenung, dan berpikir. Aneka bacaan menginterupsi mereka dari rutinitas harian entah sebagai editor, jurnalis, penerjemah, guru atau dosen, ibu rumah tangga, dan sebagainya untuk memasuki ruang dimensi dan pengalaman baru yang tak biasa.

Di antara sosok penggila buku itu adalah Diana AV Sasa yang masa kecilnya biasa disapa Nining. Ia puteri guru agama di desa kecil pegunungan kabupaten Pacitan. Sejak usia empat tahun, Nining telah mampu membaca maupun menulis Latin dan Arab (hal.55). Kebiasan membaca dan menulis mengantarkanya menyabet berbagai kejuaraan lomba mengarang hingga menjadi salah satu kontributor dalam buku Para Penggila Buku.

Kecintaan terhadap buku juga ditunjukkan Maftuhah Hamid, perempuan yang awalnya tertarik dengan jurnalistik, namun kemudian berbelok ke dunia penyuntingan di dua penerbit. Bagi seorang editor seperti Maftuhah, membaca buku adalah mahar yang tidak bisa ditawar (hal.99). Dalam sebuah rumah penerbitan, editor memang orang yang mengurusi ’dapur’ penerbit. Dialah yang mengolah sebuah naskah dari penulis untuk ’digoreng’ atau ’direbus’ hingga naskah itu menjadi olahan buku yang lezat disantap oleh pembaca.

Cerita Ninik Riwantolo (Bu Ninik) dalam buku ini tak kalah menarik. Sebagai seorang ibu rumah tangga biasa, Bu Ninik tidak pasrah begitu saja sebagai ”konco wingking”. Dari kegemaran membaca sejarah perempuan masa lalu, Bu Ninik mendapat suntikan spirit dalam memaknai arti pembebasan terhadap kaum perempuan. Bagi perempuan pengagum Cut Nyak Dien dan R.A. Kartini itu, membaca buku telah membentuk pola pikir dan kepribadiannya selama ini (hal.108).

Menyimak kisah Aku dan Buku #2: Perempuan-perempuan yang Mencintai Buku hampir serupa dengan kisah R.A. Kartini. ”Sebagai pengarang, aku akan bekerja secara besar-besaran untuk mewujudkan cita-citaku, serta bekerja untuk menaikkan derajat dan peradaban rakyat kami.” Begitulah ungkapan optimistik R.A. Kartini di akhir abad 19 yang kemudian memicu bibit-bibit keberanian dan kepercayaan diri kaum perempuan masa itu.

Toh begitu, tidak banyak perempuan yang berkesempatan mendapatkan anugerah kenikmatan ketika membaca buku. Terlebih di era media sosial seperti sekarang, tatkala katup informasi terbuka bebas tanpa batas, membaca buku-buku bermutu masih merupakan peluang yang sangat langka dengan berbagai dalih yang mengiringinya. (Peresensi: AHMAD FATONI/ Pengajar PBA Universitas Muhammadiyah Malang/WASATHON.COM)

Leave a Reply

You have to agree to the comment policy.