Membingkai Minat Baca

Membingkai Minat Baca

INDONESIA memperingati Hari Buku Nasional setiap 17 Mei. Pencanangan Hari Buku Nasional oleh Mendiknas Abdul Malik Fajar dari Kabinet Gotong-Royong itu, bertepatan dengan diresmikannya perpustakaan nasional pertama pada 17 Mei 1980.

Tujuan pencanangan itu bertujuan meningkatkan minat dan kegemaran membaca masyarakat yang masih sangat rendah. Padahal, buku adalah jendela dunia. Dengan banyak membaca buku, kita dapat menjelajahi dunia dan menambah pengetahuan. Persoalannya, bagaimana meningkatkan minat baca? Rendahnya minat baca di negara kita telah menjadi perhatian serius berbagai pihak.

Budayawan Taufiq Ismail, pernah mengeluhkan kondisi masyarakat Indonesia dalam hal membaca. Ia menyebutkan, di negara maju para siswa SMAdiwajibkan menuntaskan buku bacaan dalam jumlah tertentu, sebelum lulus.

Mengutip data Center for Social Marketing (CSM), jumlah buku yang wajib dibaca siswa SMA di AS sebanyak 32 judul buku, Belanda 30, Prancis 30, Jepang 22, Swiss 15, Kanada 13, Rusia 12, Brunei 7, Singapura 6 buku, Thailand 5, sedangkan Indonesia 0 judul buku.

Rendahnya minat baca juga bisa diukur dari jumlah buku yang diterbitkan di negara kita. Sebagai contoh, pada 2011 tercatat produksi buku di Indonesia sekitar 20.000 judul. Namun dibandingkan dengan penduduk Indonesia yang sekitar 240 juta saat itu, angka ini masih sangat jauh dari harapan, karena berarti hanya1 buku dibaca oleh 80.000 orang.

Rendahnya minat baca tersebut, semakin diperparah oleh ancaman time eating machineyang hadir dalam bentuk media sosial dengan aplikasi internet. Beredarnya hoax, ujaran kebencian, fitnah, kampanye hitam, dan lain-lain yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa, merupakan cerminan betapa rendahnya minat baca masyarakat kita.

Orang yang kurang membaca buku, biasanya kurang kritis karena tidak memiliki acuan berpikir dan menimbang sehingga mudah dihasut dan gampang meradang. Sebaliknya, orang yang banyak membaca buku, biasanya lebih tenang, kritis namun terkendali karena memiliki beberapa acuan untuk menilai situasi.

Tumbuhkan Minat Baca

Setiap orang ingin memperbaiki diri dari waktu ke waktu. Ada yang ingin mengurangi bobotnya; ada yang ingin menghilangkan kebiasaan suka menunda-nunda, ada lagi yang ingin menguasai keterampilan berbahasa Inggris, memasak, membangun jembatan, menguasai sebuah konsep, menambah wawasan untuk menulis dan lain-lain. Semua keinginan tersebut tak mungkin tercapai tanpa kegiatan membaca.

Nah, buku antara lain menerangkan cara meraih keinginan-keinginan itu. WSomerset Maugham berkata, ”To acquire the habit of reading is to construct for yourself a refuge from almost all the miseries of life.” Membangun kebiasaan membaca sama dengan menabung jalan keluar bagi semua persoalan hidup.

Menurut penulis setidaknya ada tiga langkah membangun kebiasaan membaca. Pertama, kebiasaan membaca sebaiknya dibangun sejak usia dini. Wajibkan anak untuk mematikan televisi dan membaca buku pada jam tertentu, selama 40 menit, di luar jadwal belajar mereka. Berikan target halaman bacaan yang bisa dituntaskan anak.

Jika bepergian bersama anak, jangan lupa membawa sangu bahan bacaan dan jangan memberikan smartphone atau tablet. Kedua, daftarkan anak menjadi anggota perpustakaan. Luangkan waktu bersama anak untuk mengunjungi perpustakaan pada akhir pekan. Pinjamlah buku untuk anak dan juga untuk diri Anda.

Ikuti kegiatan klub membaca, tukarmenukar buku bacaan, atau mendorong anak untuk memberikan buku sebagai hadian ulang tahun temannya. Ketiga, peran guru dalam memotivasi siswa untuk membaca buku sangat penting. Tetapi guru sendiri harus terlebih dahulu meningkatkan minat baca.

Keempat, Gerakan Literasi Sekolah (GSL) yang telah dicanangkan Permendikbud No.23/2005 berupa kegiatan membaca selama 15 menit sebelum memulai proses pembelajaran perlu ditambah dengan kegiatan membaca yang dicantumkan pada setiap mata pelajaran dan bukan hanya pada pelajaran bahasa Indonesia.

Semoga momentum Peringatan Hari Buku Nasional 17 Mei 2017 menyadarkan semua pihak untuk memberikan perhatian serius dalam meningkatkan minat baca diberbagai kalangan terlebih generasi muda guna mengejar ketertinggalan kita dari negara lain. (Sumber: SM/16/5/2017)

β€” John de Santo, adalah dosen ASMI Santa Maria Yogyakarta

Leave a Reply

You have to agree to the comment policy.