Mengapa Aku Tertarik Pada Filsafat (Bagian 1: Rasioanalisme)

Mengapa Aku Tertarik Pada Filsafat (Bagian 1: Rasioanalisme)

Hingga saat ini filsafat masih mempesonaku. Seperti sebuah magnit, filsafat tak pernah berhenti mempesonaku semenjak perkenalanku di awal tahun 79. Salah satu daya tarik filsafat pada saat awal aku mengenalnya adalah ditawarkannya kepada kita banyak hal baru yang hingga saat itu tidak pernah ketahui atau bahkan terlintas dalam benakku.

Agama yang terlalu kaku dan sempit tidak manpu menjangkau hal-hal baru tersebut dalam kajiannya. Maka ketika hal-hal baru tersebut diperkenalkan, aku sangat terpesona dan semakin terpesona.
Berikut ini akan aku sajikan beberapa gagasan baru yang begitu menarik perhatianku sehingga membuatku mampu berjam-jam membacanya hampir secara obsesif. Pertama adalah soal Rasionalisme. Sebelum aku kuliah di IAIN tahun 1978, aku hampir tak pernah berbicara tentang akal secara rasional. Dalam lingkungan Asy’ariyyah, akal dipandang sangat lemah dan dominasi wahyu sangat kuat. Tak pernah menyangka sebelumnya bahwa ada aliran Mu’tazilah yang begitu besar menghargai akal, sehingga ia dipandang dapat mengetahui beberapa perkara yang sampai saat itu hanya dapat diketahui melalui wahyu: keberadaan Tuhan, mengetahui yang baik dan yang buruk dan kewajiban menjalankan yang baik dan buruk bahkan terlepas dari adanya wahyu.

Akal yang dipandang begitu rendah oleh kaum Asy’ariyyah tiba-tiba diangkat ke level yang sangat tinggi. Maka muncullah minatku untuk mempelajari ajaran-ajaran Mu’tazilah, khususnya berkenaan dengan akal. Sejak itu muncullah ketertarikanku pada Rasionalisme. Dari sini aku mengerti bahwa kurangnnya wacana rasional dalam kajian agama bisa mendorong seseorang untuk tertarik pada sesuatu yang baru yang kadang tidak sejalan dengan ajaran awal yang kita miliki, termasuk tertarik pada filsafat.

Rasionalisme yang diperkenalkan padaku oleh kaum Mu’tazilah sangat menarik perhatianku saat itu. Maka akupun memandang Mu’tazilahlah yang seharusnya kita anut kalau kita ingin maju. Sebagai makhluk berakal maka manusia harus menggunakan akalnya semaksimal mungkin. Hanya dengan cara begitu, kita akan dapat meraih kemajuan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat nanti.

Akallah yang seharusnya kita utamakan, bukan yang lain kalau bangsa ini ingin maju. Karena Pak Harun adalah tokoh yang memperkenalkan Mu’tazilah kepadaku, maka beliau adalah tokoh yang sangat saya aku kagumi saat itu. Inilah tokoh yang sebenarnys kita perlukan untuk memajukan bangsa. Pemikir Rasional yang sangat menjunjung tinggi akal, sains dan teknologi dan menjauhkan kita dari segala tahyul dan khurafat yang menjadi penyebab utana kemunduran bangsa.

Meskipun begitu, entusiasmeku pada Mu’tazilah semakin berkurang seiring berlalunya waktu. Kecenderunganku pada filsafat, membuat aku berikir bahwa rasionalisme Mu’tazilah belum bersifat filosofis, karena betapapun ia masih terikat pada wahyu, dan aku merindukan sebuah Rasionalisme murni tanpa tergantung pada wahyu.

Maka seiring dengan motivasi yang tinggi akupun terus tenggelam dalam penelusranku di dunia fislsafat untuk mencari tahu Rasionalisme yang sejati, rasionalisme yang menggunakan akal sebagai satu-satunya ukuran kebenaran, bukan wahyu, ataupun intuisi. Maka akupun mulai mempelajari secara intensif Rasionlisme a la Descartes, dengan semboyannya yang terkenal: cogito Erga sum, saya berfikir maka saya ada.

Jadi akal bahkan menentukan keberadaan kita, kemudian alam dan Tuhan. Dan sejak itu mantaplah hatiku untuk menjadiknan akal sebagai satu-satunya kriteria untuk mengukur kebenaran, apa lagi setelah mendengar ungkapan Hegel bahwa Realitas beranding dengan Rasionalitas. Lama pandangan ini aku pegang, hingga Iqbal dan Bergson dan kemudian Rumi menyadarkanku akan kekurangan akal yang sangat fundamental. (Bersambung). (Mulyadhi Kartanegara).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *