Menikmati Perjalanan Dari Masjid Ke Masjid

Menikmati Perjalanan Dari Masjid Ke Masjid

Judul : 1001 Masjid di 5 Benua
Penulis : Taufik Uieks
Penerbit: Mizan
Halaman : 260 hlm
ISBN : 978-979-433-971-8

Sangat sulit sekali rasanya menemukan orang-orang yang tak suka bepergian jauh. Baik itu untuk sekadar jalan-jalan biasa maupun untuk pergi liburan. Tentu keinginan tersebut akan menyala disetiap perasaan kita. Apalagi ketika melihat dan atau mendengar orang-orang di sekitar kita pergi ke suatu tempat, sebutlah itu gunung, pantai, dan tempat-tempat keindahan lainnya. Lalu ketika tiba, mereka menceritakan pengalamannya kepada kita, nah apa yang akan kita rasakan begitu mendengar ceritanya?

Penasaran? Iya. Sudah pasti. Ingin pergi kesana? Tentu saja begitu. Terlebih, cerita-ceritanya tersebut disampaikan dengan begitu detail, begitu rinci, hingga pada akhirnya rasa penasaran kita pun memuncak. Ingin segera menuntaskan untuk pergi ke tempat yang diceritakan tersebut.

Salah satunya seperti yang diceritakan oleh Taufik. Iya, penulis buku ini. Dia akan meneritakan perjalanan panjangnya. Namun jangan kaget, bila cerita perjalanannya tidak lazim seperti kebanyakan orang—yang identik melakukan perjalanan atau liburan ke daerah semisal pantai, pegunungan, pusat kebudayaan, peninggalan sejarah, dan daerah-daerah berkelas lainnya. Kali ini, justru dia menceritakan perjalanannya melintasi lima benua—namun hanya mengunjungi sebuah masjid. Dia pergi jauh, hanya untuk pergi ke masjid—dari masjid ke masjid—di berbagai negara.

Dia berpendapat, bahwa dengan dia sering mengunjungi masjid di berbagai penjuru dunia, maka dia dapat mengetahui kehidupan masyarakat muslim sekitar—ya di negara tersebut. Lebih jauh, dia pun dapat mengetahui sejarah panjang masuknya islam—dan hingga berdirinya masjid di daerah itu—daerah yang dikunjunginya.

Hal menarik yang dia ungkapkan di buku ini, bahwa sempat dia mengunjungi sebuah masjid di kota Amsterdam—yang konon masjid tersebut merupakan markas teroris. masjid itu bernama Stichiting El Tawheed.

Lebih dari itu, hal menarik lainnya yang dia ungkap, adalah ketika mengunjungi Masjid Kapitan Keling—di sana terdapat Al-Quran dalam sepuluh bahasa. Masjid ini dibangun oleh Cauder Mohuddeen pada 1801. Di sana ada papan pengingat yang bertuliskan “Merokok adalah haram dari pandangan Islam kerana padah-nya terdapat kemudaratan.” (hal 84). Peringatan ini menjadi menarik—dan seolah tamparan bagi para perokok—dan paling tidak, berupa anjuran bagi kita untuk menjaga pola hidup sehat. Salah satunya untuk tidak merokok.

Pada tahun 2004 terjadi pembunuhan Theo van Gogh, sutradara pembuat film anti-silam, oleh pemuda bernama Mohammad Bouyeri, yang merupakan salah satu jamaah masjid tersebut. Peristiwa yang menggemparkan negeri Belanda dan disebut sebagai “Dutch September 11” ini membuat gerakan dan kegiatan di El Tawhed selalu dimatai-matai pemerintah (hal 21).

Selebihnya, masih banyak lagi masjid yang menarik dengan berbagai budaya dan sejarah peradaban Islam. Di antaranya Masjid Tonson di negeri seribu pagoda, Masjid Qingjing di Quanzhou yang merupakan saksi persahabatan, juga pembauran budaya Cina dan Arab, Masjid Noor Muhammad di ZanZibar, Masjid Rahmat di Dala—Yangoon yang mirip dengan dunia fantasi, Masjid Kul Zarif di Kazan, Masjid Nagoya di Jepang dan banyak lagi.

Buku ini seolah menjelaskan pada kita, bahwasannya setiap daerah memang punya keunikan-keunikan tersendiri tentang tempat wisata yang layak dikunjungi—yang tak hanya melulu bicara pantai, pegunungan, dan objek-objek wisata memukau lainnya, namun kita pun layak mencoba hal baru—salah satunya seperti yang dituturkan penulis yang memilih mengunjungi masjid—yang kemudian dipaparkan dengan sangat apik di buku sarat pengetahuan ini. Layak digenggam, dibaca, dan dipraktikkan!
***
Nunu Nugraha. Alumni IAID Ciamis, 2015. Aktif di PC PMII Ciamis, juga Komunitas Sastra Darussalam.

2 Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *