Muhammad SAW: Menghimpun Peradaban dalam Rumahnya

Muhammad SAW: Menghimpun Peradaban dalam Rumahnya

Kerinduan pada karakter laki-laki sejati, a real gentleman adalah pada Muhammad SAW. Meski bahkan bermimpi bertemu pun belum pernah tentangnya, maka rindu ini menjadi pelengkap keinginan untuk melihatnya kelak, secara literal, sebagai sesuatu yang senantiasa ada dalam hati-hati kaum muslimin.

Tidak seperti agama-agama lain, yang memisahkan dunia spiritual dari dunia yang profan. Islam yang dibawa Muhammad SAW tidak pernah menyarankan kerahiban, hidup selibat, atau beribadah memisahkan diri dari kehidupan riuh-rendah manusia. Muhammad memaknai bahkan yang membutuhkan gairah dan nafsu- seperti kehidupan seksual dalam syariat yang disebut pernikahan, sebagai ibadah.

Demikianlah, Muhammad SAW mengajarkan keseimbangan, adaptasi dan kemanusiaan, bukan hal-hal yang dianggap suci semacam kemalaikatan, sebab manusia tak serupa malaikat, ia bersalah-bertaubat, melangkah dan jatuh, jatuh cinta dan membenci, iri dan mengagumi, beristirahat dan shalat, makan-berpuasa, melakukan perjalanan (haji) dan menetap di rumah, mengambil keuntungan dari perdagangan dan bersedekah. Sungguh berbeda dengan ajaran-ajaran untuk menghindar dan mengasingkan diri dari dunia.

Takaran dalam ibadah Islam menjadi penting, tidak melakukan atau menguranginya adalah kesalahan demikian juga berlebihan di dalamnya. Seperti ketika seorang sahabat bertanya pada beliau SAW. “ Apakah akan didapatkan pahala lebih besar jika berpuasa sepanjang tahun dan shalat sepanjang malam ya Rasulullah? Rasul menjawab: “Allah tidak memerintahkannya.. Aku shalat dan tidur, aku puasa dan makan, aku bekerja dan bergaul dengan wanita (istri). Tidak seperti “orang suci” dalam agama lain, Muhammad SAW bukanlah seorang asketis yang menafikan dunia dan menyiksa tubuhnya. Ia tak seperti para rahib yang menghabiskan seluruh waktunya untuk berdoa dan bermeditasi. Ibadah yang diajarkannya adalah tindak ibadah dan disiplin diri yang menutup diri dari keberlebihan apapun.

Jika untuk ibadah khusus seperti shalat, puasa, yang langsung ditujukan pada-Nya, ditutup kemungkinan mengurangi atau melebih-lebihkan, apatah lagi ibadah sosial semacam pernikahan? Apakah pahala akan bertambah jika istri jumlahnya bertambah? Al-Qur’an menerakan angka, kuantitatif memang, tetapi sekaligus menetapkan kualitas dan bagaimana sejarah ditetapkannya norma-normanya. Tidak mengakui norma-norma, kuantitasnya, kualitatifnya sama saja berdosanya dengan melebih-lebihkannya atau tidak mempelajari bagaimana konteks norma itu diturunkan.

Beberapa hari lalu, salah satu kolega (laki-laki) menunjukkan pamflet tentang daurah poligami. Daurah berarti seminar, pelatihan, dengan rupiah angka pendaftaran cukup fantastis, 3.5jt rupiah untuk peserta laki-laki dan gratis untuk peserta perempuan yang bersedia dipoligami di tempat. Dalam pamflet tertera akan dibeberkan kiat-kiat menambah istri, dan bagaimana agar istri pertama yang tidak setuju poligami menjadi setuju, lalu juga pelatihan agar menjadi laki-laki yang ‘kuat’ secara seksual untuk melayani lebih dari satu istri.

Saya serius tertegun.

Tanda-tanda apakah ini? Perkawinan direduksi menjadi semacam perlombaan pembuktian menambah kuantitas istri? Perempuan menjadi lebih bernilai ketika ia menggenapkan angka, 2, 3 dan 4 ?

Apakah akan menambah ridha-Nya? Saya bukan Tuhan. Tetapi saya belajar tentang bagaimana konteks Muhammad SAW menambah istri.

Khadijah RA (40) adalah istri pertama beliau yang dinikahinya pada saat beliau berusia 25 tahun dari tahun 595 M hingga wafat. Baru setelah wafat Khadijah tahu 619M tahun 620 M Muhammad menikahi Aisyah RA, putri sahabatnya Abu Bakr. Baru setelah itu terjadi pernikahan-pernikanan sesudahnya yang dilakukan dengan alasan-alasan sosial-politik, atau mengajarkan nilai2 baru dalam Islam. Zainab bin Jahsy sepupu beliau yang dinikahkan dengan Zaid bin Haritsah, budak Khadijah yang telah dimerdekakan Muhammad, ternyata tidak menemui kecocokan, membuat keduanya menderita, perkawinan ini tidak bertahan lama. Ini adalah tragedi ganda, dalam adat Arabia istri seorang (mantan) budak yang dicerai dianggap paria (sampah) masyarakat, selamanya tidak dapat dinikahi. Adat masih membelenggu, meski telah dihapuskan Islam.

Maka Muhammad SAW memberikan teladan menikahinya, menegaskan bahwa sepupu adalah bukan mahram yang sah untuk dinikahi, meruntuhkan stratifikasi sosial, dan mengangkat derajat Zainab sebagai janda (mantan) budak, menjadi Ibu Kaum Mukminin. Mulia sungguh mulia. Demikian juga kisah Saudah istri Sakran bin Amis salah satu mualaf pertama dalam Islam, ia menjadi janda dan dinikahi Muhammad oleh sebab ia tiak mungkin kembali pada keluarganyayang masih non muslin lalu Juwayriyyah binti Al-Harits pemimpin Bani Mustaliq, seorang janda dan tawanan perang. Ayah Juwayriyyah memintanya ia untuk memilih untuk menerima lamaran Muhammad SAW, atau menolaknya, dan bukan dalam paksaan peperangan.

Iya, ekspansi, perlindungan dan membangun peradaban. Konteks perkawinan itulah yang sedang diajarkan.

Saya tidak tahu, apakah Dauroh Poligami seperti yang tadi saya sebutkan, mengajarkan sejarah Nabi Muhammad SAW. Atau sekedar jualan obat kuat?

Entahlah, Anda saja nanti yang menilai setelah melacak nama-nama pematerinya, dan memutuskan seperti apa orientasi mereka.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad, Wa ala ali Muhammad.
Wallahu ‘alam bishshawwab.

(Intan Savitri/WASATHON.COM)

Leave a Reply

You have to agree to the comment policy.