Zikir Sebagai Solusi Masalah Hidup

Zikir Sebagai Solusi Masalah Hidup

Judul Buku : Zikir-Zikir Utama Penenang Jiwa
Penulis : M. Fauzi Rachman
Penerbit : Mizania
Terbit : November, 2016
Tebal : 152 hal
Isbn : 978-602-418-132-1

Dalam rentang kehidupan ini, kita pasti akan mendapati berbagai persoalan hidup. Mulai dari impitan ekonomi, biaya hidup yang semakin mahal, dan masih banyak lagi hal lainnya. Semua hal tadi sering kali membuat hati menjadi resah. Lalu bagaimana agar hati kembali tenang?

Jawabannya ialah dengan berzikir kepada Allah. Sebab, arti zikir sendiri ialah ingat. Di dalam al-Qur’an pun makna zikir selalu berkaitan dengan Allah (zikrullah). Ini mengandung makna bahwa Allah yang menjadi tujuan utama (pusat) ingatan kita (hal 137).

Ya, manusia seharusnya menyadari, bahwa dirinya memang lemah. Saat tak ada lagi yang mengulurkan tangannya, maka kita akan sadar bahwa masih ada Zat yang mampu menolong. Dia adalah Allah Swt.
Zikir-Zikir Utama Penenang Jiwa merupakan karya dari M. Fauzi Rachman. Buku terbitan Mizania ini, membahas zikir yang begitu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Dalam bab pertama, buku ini membahas tentang basmalah.

Bismillah atau basmalah sering kita ucapkan guna akan memulai suatu hal. Agar apa yang dilakukan mendapat kebaikan dan keberkahan baik dunia maupun akhirat. Selain itu, segala sesuatu yang diawali basmalah, maka ia bisa bernilai ibadah disisi-Nya.

Imam Al-Qurthubi mengungkapkan, “Para ulama menjelaskan bahwa bismillahirrahmanirrahim merupakan sumpah dari Tuhan kita yang diturunkan pada awal setiap surah, untuk menunjukkan kepada para hamba-Nya bahwa yang diturunkan Alah dalam surah tersebut adalah kebenaran dan Allah menjamin akan memberikan segala janji, kasih sayang, dan kebaikan yang Allah paparkan dalam surah tersebut.” (hal 18)

Dengan berzikir pun kita jadi menyadari kelemahan diri pun semakin dekat kepada-Nya. Hidup ini memang diperuntukkan untuk beribadah kepada Allah. Tak selamanya juga manusia akan tinggal di dunia. Sebab, masih ada alam lain yang harus kita lewati. Yaitu akhirat. Di sanalah, penentuan untuk bisa memdapatkan tempat yang terbaik atau malah sebaliknya.

Bab 2 dalam buku ini membahas tentang tasbih. Tasbih berarti kita memuji Allah akan kekuasaan dan kebesaran-Nya. Bila manusia mau sedikit mencermati, alam ini sungguh indah. Jadi, sudah sepatutnya kita bertasbih dengan memuji-Nya.

Dalam bab ini juga kita akan memdapati kisah yang luar biasa yaitu kisah Nabi Yunus. Beliau diutus kepada penduduk negeri Nainawa. Namun sayang, penduduk tersebut enggan beriman atau menerima kebenaran. Akhirnya, Nabi Yunus mendapat wahyu, apabila mereka masih berada dalam kekufuran, dalam tiga hari lagi mereka akan ditimpa azab dari Allah. Beliau pun memberitahukan hal itu kepada kaumnya, tetapi mereka tetap juga tidak beriman. Nabi Yunus pun meninggalkan mereka dalam keadaan marah disebabkan sikap bodoh dan keras kepala yang mereka tunjukkan.

Sesungguhnya tidak ada lagi yang diharapkan apabila mereka tidak mau menerima kebenaran, melainkan azab seperti yang dijanjikan. Akhirnya, Nabi Yunus pergi meninggalkan penduduk tersebut sebelum azab datang. Beliau pergi menggunakan perahu yang sesak berisi penumpang. Dia yakin Allah tidak akan mempersempit dan menyusahkannya. Dia pergi untuk mencari sebuah negeri yang penduduknya mau menerima kebenaran dan mau mengikuti petunjuk.

Namun, ditengah pelayaran, perahu yang ditumpangi mendapat halangan untuk melanjutkan perjalanan disebabkan ombak dan muatan yang sarat. Solusinya adalah dengan mengurangi penumpangnya. Setelah diundi, maka keluarlah nama Nabi Yunus untuk dibuang. Hal itu dilakukan hingga tiga kali. Namun, hasilnya tetap sama. Maka, dilemparkanlah Nabi Yunus ke laut. Tidak lama kemudian, seekor ikan besar datang dan menelan beliau. ‘Auf Al-‘Arabi meriwayatkan bahwa Nabi Yunus menyangka dirinya telah mati, tetapi ketika dia menggerakkan kakinya, sadarlah dia ternyata masih hidup. Lalu dia segera bersujud dan berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menjadikan tempat ini sebagai tempat bersujud, yaitu tempat yang tiada pernah didatangi oleh siapa pun.” (hal 41-42)

Buku ini cocok bagi siapa yang ingin mendekatkan diri kepada Allah melalui zikir. Agar diri semakin bertambah cinta kepada-Nya. Pun membuat hati menjadi jauh lebih tenang. (Toni Al-Munawwar/WASATHON.COM).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *